Kamis, 18 Mei 2017

RESENSI NOVEL - THE FAULT IN OUR STARS


The Fault in Our Stars cover
Judul: The Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Editor: Julie Strauss-Gabel
Penerbit: Dutton Books
Tanggal Publikasi: 10 Januari 2012, cetakan 1.
Jenis Buku: novel remaja
Tebal: 313 Halaman
Kelebihan:
-          Bahasa yang mudah dimengerti.
-          Pembaca serasa terjun ke dunia novel ini karena cerita ini mengisahkan cerita ini dari sudut pandang orang pertama, yaitu Hazel.
-          Font nya mudah dibaca.
-          Kertas bagus.
Kekurangan:
-          Karena bahasanya, bahasa anak muda, ada terkandung kata-kata kasar.
-          Soft covernya rapuh. Sehingga mudah robek dan mudah terkelupas.

The Fault In Our Stars merupakan novel keenam dari John Green yang diluncurkan pada tahun 2012. Buku dengan jumlah 24 bab ini mengisahkan tentang kisah kehidupan Hazel Grace Lancaster, penderita kanker tiroid stadium IV dan tumor di paru-parunya yang mengikuti grup penyemangat kanker karena dipaksa ibunya untuk bersosialisasi setelah dinyatakan bahwa Hazel depresi. Di grup itulah dia bertemu dengan Augustus Waters, laki-laki berumur 17 tahun yang mempunyai satu ‘setengah’ kaki karena dari lutut hingga kaki kananya diamputasi karena kanker tulang atau osteosarkoma yang pernah dideritanya.


Novel John Green kali ini merupakan salah satu karyanya yang mudah dibaca karena bahasanya yang ringan. Tidak seperti novelnya yang berjudul An Abundance of Katherines yang menggunakan kata-kata matematika terlalu banyak dan rumit. Seperti novel Green lainnya, kekhasan dari novel ini sangat terlihat. Yaitu, gaya bahasanya yang blak-blakanseperti bahasa sehari-hari yang membuat para pembaca terasa ikut terjun ke dunia cerita tersebut.


Sekilas, novel ini terlihat biasa saja, apalagi cerita ini bertemakan cinta remaja, yang sudah banyak beredar. Tapi, buku ini seolah membuktikan diri bahwa cerita ini beda dari cerita yang lain. Dari judulnya saja, kalimat ‘The Fault In Our Stars’ diambil dari kalimat yang terdapat di salah satu karya Shakespeare, ‘Julius Caesar’, ketika Cassius berkata kepada Brutus “Kesalahannya, wahai Brutus, bukan berada di bintang-bintang kita, melainkan dari diri kita sendiri.” Selain judulnya, buku ini telah berhasil bertahan 78 minggu berturut-turut di tangga New York Times Best Seller. Yang berarti, buku ini akan tetap terpajang di rak best seller toko buku dalam beberapa tahun kedepan.


Yang membuat cerita ini seolah hidup adalah, John Green mendapatkan inspirasi menulis The Fault In Our Stars ketika dia bekerja sebagai pendeta mahasiswa di rumah sakit anak-anak pada tahun 2010. Disana, John bertemu dengan penderita kanker tiroid stadium IV yang meninggal pada umur 16 tahun bernama Esther Earl. “Buku ini (The Fault In Our Stars) tidak akan ada jika aku tidak bertemu dengan Esther.”


Dibalik cerita tragis ini pula, John Green memilih nama tokoh sesuai dengan kepribadian atau situasi yang dihadapi masing-masing. Dimulai dari nama Hazel. Hazel merupakan warna diantara coklat dan hijau, dan berarti sama dengan hidup yang dialami Hazel. Berada di tengah. Berada ditengah sakit dan sehat, di tengah remaja dan dewasa dan lain-lain. Begitu pula dengan Augustus. Nama Augustus ini identik dengan ksatria Roma. Tetapi, nama panggilannya, Gus, adalah nama yang identik dengan nama anak kecil. Nama itu menceritakan hidupnya dari kuat menjadi lemah. Sedangkan Isaac, nama itu diambil karena dia memiliki kanker mata yang membuat dia buta. Cara menyebut nama Isaac adalah eye-sick.Jadi, nama itu ada karena Isaac mempunyai penyakit di matanya.


Cerita ini dimulai dengan Hazel Grace Lancaster, penderita kanker berumur 16 tahun. Hazel disebut-sebut sebagai ‘keajaiban’ oleh para dokter karena dia termasuk sebagai 30 persen orang yang berhasil menggunakan Phalanxifor, obat yang molekulnya dibuat khusus untuk menempelkan diri kepada tumor dan memperlambat pertumbuhan dan pelan-pelan mengecilkan tumor. 3 tahun menderita kanker jelas membuatnya depresi. Apalagi, karena kanker yang dideritanya itu, membuat Hazel malas bersosialisasi sehingga teman yang dia punya hanyalah orang tuanya, dan penulis favoritnya yang sudah pasti tidak mengetahui keberadaan Hazel. Bahkan mungkin tidak tahu bahwa Hazel ada. Karena depresi itu, Hazel sering memikirkan kapan kematiannya datang. Depresi itu juga yang membuat ibunya khawatir dan akhirnya menyuruhnya untuk ikut berpartisipasi dengan grup penyemagat kanker di bawah tanah gereja Episcopal. Grup penyemangat merupakan hal yang benar-benar membosankan. Karena Patrick, pemimpin grup penyemangat itu hanya bisa bercerita hal yang sama berhari-hari, yaitu, cerita bagaimana dia bisa selamat dari kanker testis yang hampir membuatnya mati. Hal yang membuatnya bertahan disana hanyalahIsaac,  penderita kanker mata yang membuatnya buta. Mereka jarang berbicara. Mereka berkomunikasi lewat helaan nafas bosan ketika Patrick bercerita atau bernyanyi lagu yang sama.


Di sisi lain, Augustus Waters, laki-laki berkaki satu berumur 17 tahun yang menyukai metafora, yang optimis dalam segala hal, dan ingin meninggalkan jejak di dunia. Tapi, mempunyai ketakutan akan dilupakan. mukanya yang ganteng, postur tubuh yang bagus, dan senyumnya yang membuat banyak perempuan meleleh ini jelas membuat Hazel heran kenapa Augustus menyukainya.


Hazel dan Augustus bertemu di grup penyemangat. Augustus yang juga teman Isaac, dan datang karena permintaan Isaac juga ini, langsung mengajak Hazel untuk menonton film V For Vandetta di rumahnya di saat itu juga, karena Augustus ingin menunjukkan bahwa Hazel mempunyai wajah yang mirip seperti Natalie Portman di film itu.


Hubungan mereka menjadi semakin dekat ketika mereka saling merekoendasikan buku satu sama lain. Augustus merekomendasikan buku favoritnya yang sudah diadaptasi menjadi video game, Price of The Dawn, dan Hazel merekomendasikan buku karya Peter Van Houten yang berjudul An Imperial Affliction. Hazel memberitahu Augustus bahwa ia sangat ingin pergi bertemu Peter Van Houten, tapi sayangnya Peter tinggal di Amsterdam dan Hazel tidak bisa membuat keinginan dia terwujud karena dari segi finansial yang tidak cukup karena orang tuanya harus membayar segala perawatan kanker, obat Phalanxifor, dan tabung-tabung oksigen yang harus Hazel bawa kemana-mana untuk membantunya bernafas. Dan sayangnya, dia sudah menukar keinginannya kepada Genie Foundation ketika ia berusia 13 tahun untuk pergi ke Disney World. Singkat cerita, Augustus membawa Hazel pergi berpiknik dengan atribut serba oranye dan membawa roti isi keju belanda dan tomat serta jus jeruk. Hazel yang tidak tahu apa yang terjadi pun akhirnya diberitahu Augustus, bahwa ia telah menukar keinginannya kepada Genie Foundation untuk membawa mereka ke Amsterdam untuk bertemu sang penulis, Peter Van Houten.


Perjalanan mereka ke Amsterdam membuat hubungan mereka makin dekat lagi dan akhirnya meresmikan hubungan mereka. Tapi sayangnya, pertemuan mereka dengan Peter Van Houten tidak berujung manis. Peter berubah menjadi pemabuk dan ketika mereka sampai disana, Peter mencaci-maki Hazel dan Gus tentang penyakit Hazel. Pertemuan yang menyebalkan itu membuat Lidewij Vliegenthart, asisten Van Houten berhenti dari pekerjaannya dan mengajak mereka berdua ke rumah Anne Frank tanpa mengajak Van Houten.


Beberapa bulan kemudian Hazel dikagetkan dengan berita menyakitkan dari Augustus. Walaupun begitu, mereka tetap menjalani hari-hari mereka dengan penuh kasih sayang seperti biasa hingga Augustus meninggalkan Hazel untuk selamanya.


Dari sinopsis diatas, dapat diketahui bahwa cerita cinta mereka tetap mengalir manis walaupun banyak halangan yang mereka dapat. Ada salah satu kutipan-kutipan dari buku ini yang sangat saya suka ‘Tidak banyak yang tahu dia sehingga tidak banyak yang mencintai dia. Tetapi, dia tidak memikirkan berapa banyak orang yang mencintainya, dia lebih peduli dirinya dicintai satu orang saja tetapi dia dicintai begitu dalam.’


Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari The Fault In Our Stars adalah:
1-      Lebih baik kita mempunyai satu orang yang mencintai kita begitu dalam daripada berada di ruangan penuh orang-orang tapi mereka tidak peduli.
2-      Ada beberapa situasi yang tidak bisa kita tangani, kita tidak bisa menanganinya karena itu yang terjadi. Tetapi, kamu sendiri yang mempunyai pilihan untuk bagaimana kita merespon  situasi itu.
3-      Kadang-kadang kita merasa begitu terjebak dalam situasi kita sendiri, sampai kita tidak melihat apa yang terjadi dengan orang lain. Situasi orang lain terkadang lebih besar dari situasi yang sedang kita hadapi. Hal ini sangat penting untuk memperluas kepedulian dan perhatian kepada mereka juga, terlepas dari apa yang  mungkin akan kita lalui saat itu.
The Fault In Our Stars sangat membantu kita untuk mengetahui lebih lanjut apa itu cinta sejati.
“Sejujurnya, aku lebih memikirkan Monica daripada aku memikirkan mataku. Apakah aku gila?” Isaac bertanya kepadaku. 
“Ya, sedikit.” Aku membiarkannya. 
“Tapi, aku percaya akan cinta sejati. Semua orang harus mendapatkan cinta sejati, dan cinta sejati harus bertahan setidaknya selama kamu hidup.” 
                                “Cinta sejati harus bertahan hingga akhir hidupmu.”

sumber: http://my-name-is-too-mainstream.blogspot.co.id/2014/07/resensi-novel-fault-in-our-stars.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar